Transformers: The Last Knight yang Gitu

Transformers: The Last Knight
Sumber: orlandopassholder.com

Transformers: The Last Knight, film kelima robot ber-DNA supercanggih yang bakal membuatmu bergumam,  “Eh, kok gitu?” Film diawali gambaran robot-robot Planet Cybertron, khusunya Autobot yang bersembunyi di sebagian wilayah bumi. Para tentara bersusah payah membunuh mereka, termasuk tokoh keren pejuang Autobot sebelumnya, Willian Lennox (Josh Duhamel). Lalu dimana Optimus Prime sang pahlawan? Entahlah, Optimus bak terbuang. Sang sutradara, Michael Bay, tampaknya membuat Optimus sampingan pengangguran, tidak penting dan agak penting di bagian tengah dan akhir cerita. Optimus diceritakan kembali ke planet Cybertron guna menemukan asal-usul dirinya. Sayangnya Optimus si bijak, baik, yang sulit dikalahkan, berhasil dipengaruhi alias dihasut robot tua berambut besi memuakkan as known as nenek sihir versi Planet Cybertron. Alhasil Optimus menjadi antagonis yang sukses membuat bumi pontang-panting.

Mark Wahlberg sebagai Cade Yeager
Sumber: imdb.com

Baiklah, kisah kembali ke bumi, dimana penggemar Sam Witwicky (Shia LaBeouf) memuntir-muntir jerami, termasuk saya yang gagal move on, terlebih tokoh utama yang rasanya tidak sebaik dan sekeren pemeran sebelumya, Cade Yeager (Mark Wahlberg), yang entah kenapa melindungi robot Cyberton yang tersisa di bumi. Dia meninggalkan putri semata wayangnya dan memilih tinggal di tempat pembuangaan sampah. Lalu kisah-kisah tidak penting, alay, garing, yang membuat saya bingung terpaksa ditonton.

Adegan Raja Arthur
Sumber: thehdroom.com

Kemudian film sering menceritakan cerita masa lalu, singkatnya Raja Arthur mendapat sebuah tongkat ajaib. Atau saya lebih suka menyebutnya sebagai tongkat mistis, ingat tongkat mistis di dunia Autobot dan Decepticon yang canggih. Tongkat ini diramalkan membawa suatu kejahatan besar di masa depan. Benar saja, jauh di masa depan, keturunan terakhir Raja Arthur, seorang profesor ahli sejarah bernama Viviane Wembley (Laura Haddock) mewarisi kekuatan yang wow. Sentuhan tangan wanita muda ini mampu menghidupkan mesin-mesin atau membangkitkan suatu kekuatan yang rasanya sangat tua. Ini menurut saya terlalu berlebihan. Sebab di film sebelumnya, kecuali film ke-4, segala sesuatu tampak berlogika. Nah, ini malah semacam kekuatan super melalui keturunan yang membuat penonton sekali lagi bergumam, “Eh, kok gitu?” Karena “kok gitu” saya enggan mengulas kisah detail disini, apalagi membahas tokoh-tokoh mubazir, alur rumit, pemaksaan adegan, minimnya pertarungan antar robot, lelucon hambar, dan lain-lain. Intinya saya kecewa. Pokoknya saya nggak paham terhadap isinya dan sekali lagi saya tuliskan saya sangat kecewa.