Freud: Agama Semacam Ilusi

Agama
Sumber: livescience.com

Psikoanalisa merupakan teori psikologi modern dari Sigmund Freud yang dianggap korosif pada keyakinan. Fakhrun Siraj, PSA, NCPsyA, FISAP, menerangkan  Freud berpikir agama sebagai ilusi karena manusia melakukan sesuatu yang tidak masuk akal demi sebuah keyakinan dan meyakini sesuatu itu ada padahal Freud berpikir itu tidak ada, sehingga termasuk mengalami penyakit mental.

Sigmund Freud
Sumber: biography.com

Dalam psikogenesis agama atau asal-muasal fenomena agama terkait jiwa manusia yang diterangkan Fakhrun Siraj, PSA, NCPsyA, FISAP, agama diawali dari manusia primitif dalam sebuah klan. Dalam klan tersebut terdapat sosok penguasa terkuat yang disebut primal father. Karena merasa iri, pemuda lain dalam klan tersebut melakukan gerakan baru untuk membunuh penguasa. Hal ini menyebabkan rasa bersalah dan ketakutan atas berbagai ancaman dan bahaya dari lingkungan luar karena kehilangan sosok primal father. Lantas para pemuda tersebut mengalami kekosongan. Lalu mereka menciptakan berhala untuk menghidupkan primal father kembali. Hal ini merupakan asal peristiwa totenisme atau supranatural dalam diri manusia. Dengan begitu perasaan bersalah dan rasa takut akan menghilang karena primal father telah hidup dan ada bersama mereka sebagai berhala. Oleh karena itu, berhala tersebut terus menerus dipuja. Padahal, ancaman dan bahaya tidak menghilang dan tetap akan datang baik tanpa maupun adanya berhala tersebut. Melalui hal ini, Sigmund Freud menyebut agama hanyalah sebagai ilusi.

Ilusi
Sumber: kornferry.com

Tidak hanya itu, anggapan agama sebagai ilusi juga diterangkan dalam psikopatologi agama. Impuls seksual atau segala sesuatu kenikmatan agar terhindar dari penderitaan yang mengalami represi moral (ditekan menuju ketidaksadaran) dapat menyebabkan kekosongan. Kekosongan ini diintroyeksi (diisi dengan memasukkan berbagai nilai) seperti nilai-nilai agama. Namun dalam pelaksanaannya, pada akhirnya akan tetap menyebabkan simpton atau gejalan gangguan jiwa yang dapat berakhir pada obsesi kompulsi (gangguan jiwa pada orang beragama). Dengan demikian ada dan tidaknya agama merupakan sesuatu yang sama. Maka melalui psikogenesis dan psikopatologi agama, sudah lebih cukup bagi Freud untuk menyebut agama sebagai ilusi.

Posting Komentar

0 Komentar